Sosial-Masyarakat
KHADIMUL UMMAH
Oleh : Uchu Muhammad Zaini Al-Kepri
Mahasiswa STID Mohammad Natsir Jakarta
( Sabtu, 13 Juli 2008, Masjid Ruhul Islam, Kp. Melayu, Jatinegara – Jakarta Timur )
” Ustadz…nanti tolong pimpin shalat jenazah ya, sampai kepemakamannya ya….”, pinta Pak Agus, selaku RT. “insya Allah…pak..” Jawabku, yang baru saja selesai memindahkan bangku-bangku dan meja ke kelas TK yang baru. Ternyata yang meninggal itu adalah Pak Pak Siwang Bin Taslim, pada hari Ahad 13 Juli 2008 sekitar jam 9-an. Pria lansia yang selalu datang shalat ke masjid dan terkadang tampak duduk di teras masjid sambil minum secangkir es atau terlihat tidur di dalam masjid. Bapak tua yang terlihat kurus itu, memang telah lama sakit karena faktor lansia dan lain sebagainya. Namun yang terlihat haru dan bangga, ia hampir tidak terlihat mengeluh dan dihadapi dengan tenang.
Siang itu, sekitar jam 13.00 Wib, Shalat Jenazahpun berlangsung, yang diamanahi kepada saya untuk memimpinnya. setelah salam, langsung menyampai nasihat kepada para jama’ah, inilah salah satu tanda-tanda kebesaran Allah, Dia-lah yang berkuasa atas hidup dan matinya setiap mahkluk bernyawa. namun pertanyaannya adalah sudah seberapa siapkah kita menghadapinya? yang datangnya tanpa kita ketahui.
Kemudian, jenazah langsung ditandu oleh jama’ah, ke pemakaman “Kober” Kp. Melayu-Jatinegara. Perjalanan yang ditempuh lebih kurang 1 KM, digotong secara bergantian, terlihat kekompakan dan tanggung jawab bersama. Terlihat liang lahat 1×2,5 telah selesai dikerjakan, kemudian saya diamanahi lagi untuk melakukan pemakaman yang ditemani oleh dua orang, yang salah satunya adalah anak Pak Siwang -(Alm)-sendiri. sambil membaca; “Bismillahi Wa’ala Millati Rasulillah“, secara perlahan jenazah tersebut dimasukkan ke dalam liang lahat. maka satu-persatu batang bambu yang telah dipotong-potong, disusun secara rapi. langsung urukan tanah pun mulai menutupi lubang secara sempurna. setelah selasai, jama’ah berkumpul. sekali lagi saya diamanahi untuk memimpin taushiyah ta’ziyah dan do’a, sebagai nasihat bagi yang masih hidup, sekaligus menghibur keluarga yang telah mati dan yang penting mengingatkan kepada ahli keluarga untuk melaksanakan wasiat dan menunaikan hutang piutang, jika memang ada.
di bawah terik mata hari dan keringat yang mengalir, mengiringi prosesi pemakaman, para hadirin berdiri sambil menundukkan pandangan bermunajat kepada Allah Swt. “Ya Allah kami memohon, ampunilah dosa-nya, kasihanilah ia, maafkanlah ia, berikanlah ia nikmat kubur dan dijauhkan dari azab kubur, dan kesabaran kepada ahli keluarga yang ditinggalkan serta sebagai pelajaran bagi kami yang masih hidup, Amin.”



