Reportase Hidayatullah
SILATURAHIM MAHASISWA
STID MOHAMMAD NATSIR JAKARTA
KE REDAKSI HIDAYATULLAH
Oleh : Uchu Muhammad Zaini Al-Kepri
Mahasiswa STID Mohammad Natsir Jakarta
( Sabtu, 10 Juli 2008, Masjid Ruhul Islam, Kp. Melayu, Jatinegara – Jakarta Timur )
Jakarta- Keinginan besar segenap Mahasiswa STID Muhammad Natsir Jakarta, untuk memiliki kemampuan serta ketajaman dalam menulis dengan kapasitasnya sebagai kader da’i yang intelektual-professional dan ingin mengetahui bagaimana aktifitas “dapur” redaksi sebuah majalah, maka pada hari Kamis (10/7) diwujudkan dengan melakukan silaturahim ke redaksi Majalah Hidayatullah, yang beralamat di Jl. Cipinang Cempedak 1/14 Polonia, Jakarta Timur 13340.
Rombongan yang datang sekitar pukul 16.30 Wib disambut oleh Dosen Jurnalistik STID Mohammad Natsir, Ustadz Nuim Hidayat, MA yang lebih dahulu datang, dan langsung mendapatkan penerimaan dan apresiasi yang dari baik Pimpinan Redaksi majalah Hidayatullah, Ustadz Mahladi.
Di sebuah ruangan rapat, yang dihiasi oleh berbagai buku bacaan dalam dua buah rak yang besar, Ustadz Mahladi memaparkan berbagai pengetahuan tentang dunia kejurnalistikan sebagai sarana dakwah yang cukup efektif untuk zaman informasi dan teknologi seperti sekarang ini. Ia mengatakan “melakukan dakwah harus secara efektif diantaranya melalui tulisan” tutur pria yang bersuara kalem ini. Ia memberikan contoh pada majalah hidayatullah, setiap edisi yang terbit dicetak sebanyak 55.000 eksemplar, jika diasumsikan satu keluarga yang membeli satu majalah dan minimal terdapat 4 anggota keluarga, maka jika dikalikan sudah 200.000 orang yang membaca tulisan kita tentang nilai-nilai keislaman.
Pria yang pernah menjadi wartawan di koran Republika ini menjelaskan kendala yang dihadapi bagi penulis. Diantaranya, “apakah sudah menarik tulisan yang kita buat?” tuturnya. Karena memang setiap tulisan yang kita tulis belum tentu menarik bagi yang membaca, sehingga pesan atau informasi yang ingin kita sampaikan tidak mengena. Diantara barometer tulisan yang kita buat menarik, adalah pembaca semakin tertarik untuk membaca hampir keseluruhan tulisan kita dan adanya reaksi emosional setelah membaca tulisan tersebut. Jika pembacanya biasa-biasa saja, tidak ada komentar dan reaksi, berarti tulisan kita masih belum menarik. Maka dia pun memberikan beberapa tips dalam penulisan, yaitu mengumpulkan data akurat seperlu mungkin kemudian mengemaskannya menjadi tulisan yang indah dan menarik.
Selain itu, Pimred Hidayatullah ini pun, menjelaskan tentang mekanisme kerja pada majalah Hidayatullah. Ia memaparkan bahwa diantara keunggulan majalah Hidayatullah adalah memiliki agen distribusi yang jelas tidak terlalu berkompetisi dengan promosi di pasaran, karena majalah ini mengandal cabang-cabang organisasi Hidayatullah yang telah tersebar di Nusantara, diantaranya Surabaya, Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, dll. Meskipun demikian ia menuturkan, majalah Hidayatulah tetap menjaga inpendensi dari intervensi langsung dari organisasi Hidayatullah, sebagai bentuk majalah yang dikelola secara professional dan untuk semua kalangan. Hidayatullah sebagai majalah Islam, tetap berpihak kepada kebenaran yang dilandasi pada Al-Quran dan As-Sunnah. Ustadz Mahladi menjelaskan, dalam kasus Ahmadiyah, Majalah Hidayatullah telah mengambil sikap yang jelas dan tegas yaitu berpihak kepada Islam dan menolak Ahmadiyah sebagai bagian dalam agama Islam, karena telah menyimpang dari agama Islam.
Pertemuan yang menarik ini, dimanfaatkan oleh mahasiswa dengan dialog untuk menjawab rasa kepenasaran, dengan bertanya seputar dunia kejurnalistikan dan mekanisme kerja majalah Hidayatullah. Akhirnya pertemuan ini, disambut dengan datangnya panggilan adzan Maghrib, dari masjid yang berada di dalam komplek Hidayatullah perwakilan Jakarta ini.
“Semoga aktifis Mahasiswa STID Mohammad Natsir menjadi Mujahid Dakwah yang ikhlas berjuang dijalan Allah ‘Azza Wajalla, tegas dalam bahasa lisan dan tajam dalam analisa tulisan, sehingga menjadi da’i yang intelektual dan professional. Terima kasihku, ku sampaikan kepada Ustadz Nuim Hidayat sebagai dosen jurnalistik pada program KPI, yang telah menuangkan pikiran, waktu dan tenaganya dalam menyampaikan ilmunya selama kuliah, semoga apa yang disampaikan menjadi ilmu yang bermanfaat, jazakumullahu khairan katsira, Aamiin.”. (MZ, Smt VI, Kbn Pala I, MRI, 2008)



